Home Berita Drama Kolosal Ciptakan Suasana Pilu Kisah Belanda Kepung Jenderal Soedirman

Drama Kolosal Ciptakan Suasana Pilu Kisah Belanda Kepung Jenderal Soedirman

414
0

Foto : Saat tampilan drama kolosal yang dibawahkan oleh pelajar SMA Negeri 2 Unggulan

PALI- Suasana Pilu begitu menyelimuti peserta upacara dan tamu undangan saat melihat tampilan Drama Kolosal oleh para pelajar SMA Negeri 2 Unggulan sebelum pengibaran bendera pusaka merah putih di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), tepatnya di Lapangan Bandara Simpang Airport Kelurahan Handayani Mulia Kecamatan Talang Ubi.

Suasana haru dan pilu pun makin dirasakan saat sekelompok penjajah dari Belanda menghancurkan rumah, gedung serta membunuh warga negara Indonesia serta berupaya menangkap Jenderal Besar Soedirman.

Suasana makin mencekam saat pasukan penjajah dari Belanda membunuhi para petani serta para prajurit saat menutupi keberadaan Jenderal Sudirman. Pada saat itu, para penjajah memaksa masyarakat untuk menujukkan keberadaan beliau.

Pada drama tersebut, diperagakan atribut bendera Belanda dan peralatan seragam para Kompeni. Selain itu juga ditampilkan kesulitan para pejuang Indonesia keluar masuk hutan dan perkampungan untuk mengatasi dan menghabisi para tentara kolonial Belanda.

Drama kolosal ini di bawah bimbingan Irwansyah, SP.d MS.i Kepala sekolah SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi dan juga Dewi Marleni, SP.d.

BACA JUGA  BLT Sudah Bisa Cair , Bupati PALI Himbau Agar Dana Digunakan Sebaik-baiknya

Berikut cerita dan cuplikan yang masih tersisa dari berbagai sumber.
‘’Kita sandarkan perjuangan kita sekarang ini atas dasar kesucian, kita yakin, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan melalaikan hamba-Nya yang memperjuangkan sesuatu yang adil berasaskan kesucian batin. Jangan cemas, jangan putus asa, meski kita sekalian menghadapi macam-macam kesukaran dan menderita segala kekurangan, karena itu kita insya Allah akan menang, jika perjuangan kita sungguh berdasarkan kesucian, membela kebenaran dan keadilan. Ingatlah pada firman Tuhan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 138 yang berbunyi: “Walaa tahinu walaa tahzanuu, Wa antumul a’launa inkuntum mu’minin”, yang artinya “Janganlah kamu merasa rendah, jangan kamu bersusah hati sedang kamu sesungguhnya lebih baik jika kamu mukmin.”

Dengan penuh keyakinan sang Jenderal menyiapkan pasukannya. Kutipan ayat-ayat suci itu bukanlah pemanis bibir untuk mendongkrak popularitas. Kalimat agung itu hanya akan mampu dilahirkan oleh orang yang meyakininya. Pesan Rabbaniyah itu mengiringi seruan mobilisasi dalam menghadapi kekuatan Belanda, pada agresi kedua.

Dua jam sebelum pendaratan (Belanda, red), Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang masih berumur 30 tahun, membangunkanku. Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu, dia mendesak. “Saya minta dengan sangat, agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya.”

BACA JUGA  Terkait Banyak Warga Belum Mendapatkan Bantuan Dampak Covid-19 ,Pimpinan DPRD Minta Dinas Terkait Untuk Mendata Ulang

Sambil mengenakan pakaianku cepat-cepat aku berkata: “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua. Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini saya menghadapi kematian, tapi jangan khawatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …”
Soedirman mengepalkan tinjunya: “…Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”
Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, “Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?” tanyanya.
“Ya, jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lurah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta”.

BACA JUGA  Bupati Askolani Lantik Pejabat Fungsional, Tenaga Kesehatan, dan Para Camat

“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam. Dan jangan ke luar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!”
Itulah dialog yang terekam saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948, Sukarno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya.

Laporan : Anelka/net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here